Selamat datang di dunia Fisika^_^

mempelajari Fisika sulit-sulit asyikk

Jumat, 30 Desember 2011

Pohon kartini


                          SEPETAK  PERJUANGAN KARTINI
           
Hari ini tubuh tua Buk Tini semakin terlihat, apalagi sinar kerutan peluh tergambar jelas di wajahnya yang bersahaja. Kegiatan apapun akan di lakukan jika itu bisa menghilangkan kebosanan hidup yang dia alami seorang diri. Bukan Buk Tini, jika mau berdiam diri berbaring di panti jompo dan bersenda gurau dengan teman-teman seusianya. Buk Tini adalah sosok wanita yang teguh pendirian jika yang dia pertahankan adalah suatu kebenaran. Tapi hari ini wajahnya begitu berbeda tak seperti biasanya, seolah-olah ada hal yang begitu menyiksa batinnya.
            “ada masalah apa, Bu. Mari ceritakan kepada saya ?” sapa pemuda paruh baya yang ramah itu. dia seorang satpam di apartement sebelah rumah Buk Tini, Ilham namanya. Jika bertemu dengannya tanpa seragam kau akan heran dan tidak menyangka kalau dia adalah seorang satpam. Jenggotnya yang rapi dan wajahnya yang bersih bersinar lebih memantapkan jika dia adalah seorang ustadz muda. Dialah yang sering membantu Buk Tini , bahkan sering memberikan Buk Tini uang upah kerjanya yang sering di tolak Buk Tini dengan ramah karna uang pensiun dari suaminya masih cukup untuk memenuhi kebutuhannya seorang diri.
            “hah, si Pria berkacamata hitam itu kemarin mendatangiku, lagi Am” balasnya lirih menerawang kejadian pagi kemarin. Seorang lelaki senja pemimpin proyek pembangunan gedung pencakar langit yang akhiranya turun tangan untuk membujuk wanita tua yang telah membuatnya pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, tujuh orang pegawainya yang datang ke rumah Buk Tini malah menginginkan agar pembangunan itu di batalkan. Dengan alasan kemanusiaan, bah bakal tidak makan jika kita masih memikirkan kemanusian untuk zaman seperti sekarang fikirnya.
            Percakapan sore itu tidak di lanjutkan karna Ilham di minta kembali ke apartement. Buk Tini duduk di bawah pohon beringin sebelah rumahnya setelah menyelesaikan sholat asar. Banyak hal yang dia sering lakukan di sana. Kadang dia mengajak anak-anak yang baru pulang dari les untuk duduk disana bercerita, menggambar, bahkan bermain petak umpet. Kegiatan yang sangat dia gemari karna bisa berkumpul dengan anak-anak dan berbagi cerita, sesuatu yang bisa mengobati kerinduannya kepada anak dan suaminya yang meninggal akibat kecelakaan dua puluh tahun yang lalu. Kajadian miris yang membuat hatinya kelu.
            Beberapa helai daun turun menemani kesunyiannya. Inilah tempat yang membuatnya nyaman selain di atas hamparan kain sarung yang menjadi tempatnya mengadu kepada Tuhan Sang Maha Tahu. Dia menutup matanya, lelehan kulit kelopak matanya yang membuat wajah tua itu kelihatan sangat senja. Fikirannya menembus lorong waktu dan sejenak bermain di sana, sudah hampir terasa hambar wajah anak dan suaminya yang sekarang sudah tenang di alam baka. Apakah kalian sudah siap untuk menyambutku disana, aku merasakan usia ini semakin enggan berlama-lama tinggal dibumi.bisik hatinya.
                                                         ****
             Pagi ini seperti biasa beberapa orang berteduh di bawah rindangnya pohon beringin milik Buk Tini yang sebagian dahannya menjulur ke luar pagar. Perkarangan rumahnya yang tidak terlalu luas membuat siapapun yang melihat tidak menyadari ada gubuk tua yang berlindung di bawahnya. Sangat asri dan menyejukkan bagi setiap yang memandang, suasana yang sangat sulit di dapatkan di kota besar saat ini. dan pemandangan yang sangat kontras dengan lingkungan sekitar yang setba metropollitan.
“Sudahlah Bu, ini demi kabaikan kita bersama” kata lelaki itu geram.                                                             “kebaikan apa yang Tuan maksudkan?” balas Buk Tini tegar, sapu lidi yang di pegangnya sudah tak sabar untuk berlari menusuk wajah Lelaki berkacamata hitam itu.                                   “Bu, sudah habis kesabaran saya menanggapi orang tua macam anda, saya tahu anda sendiri di sini jadi mudah saja untuk saya berbuat sesuatu yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya!!”.                                                                                                                          “Jadi ini sosok asli manusia berdasi saat ini, sungguh memang saya tidak pernah membayangkan ,Tuan”.                                                                                                              “Siapa anda wanita tua berani berbicara seperti itu kepada saya. Oke Bu, saya sudah menawarkan harga yang lebih dari cukup untuk anda dan ini balasan yang saya terima”.              “Saya tidak pernah meminta apapun dari anda Tuan dan itu juga bukan hal yang penting karna pohon dan rumah ini lebih berharga dari uang yang anda miliki”                                                             “Oh, wanita tua. Anda sudah benar-benar saya geram dan jangan salah kan saya dengan sesuatu yang terjadi pada anda!”. Sentaknya seraya pergi.
                                                          ****
            “Apa tidak sebaiknya jika ibu mengihklaskan rumah dan pohon ini, Bu. Insyallah setelahnya Ibu akan lebih tenang bisa tinggal di rumah yang lebih layak dan Ibu tak perlu bersusah payah untuk menyapu daun gugur sebanyak ini lagi” Tuturnya perhatian.               Buk Tini hanya memandangnya sekilas dan memejamkan matanya. Dia tak mengira perkataan itu keluar dari mulut Ilham, pemuda yang sudah di anggapnya anak. Apakah ia tidak meraskan bahwa yang di inginkannya ini adalah sebuah semangat untuk mempertahankan yang seharusnya di pertahankan. Semakin berat saja rasanya semua ini karena dirinya yang sendiri.
            “Maaf sekali Bu, jika menyinggung perasaannya Ibu. Sungguh saya tak bermaksud , saya hanya tak ingin terjadi apa-apa dengan Ibu jika Pak Handoko berbuat macam-macam” Katanya tertunduk. Sungguh dia sangat menyayangi sosok di hadapannya ini sesosok wanita senja yanng telah diangapnya ibunya sendiri. Dan dia tahu hanya dialah yang terlihat peduli, karna setelah kedatangan Pak Handoko kemari, isu mulai merebak bahwa Buk Tini gila dan memiliki hubungan dengan “Penjaga pohon” sehingga banyak orang-orang yang enggan menegur apalagi menitipkan anaknya kapada Buk Tini . Dan dia tahu itu adalah akal-akalan bosnya saja untuk menyusahkan wanita sebatang kara ini.
            Buk Tini tersenyum. Aku hanya bisa mempertahankan ini di usia senjaku nak, tak apa jika yang ingin di bangun “orang kaya itu” adalah rumah ibadah atau tempat sosial dan tak apa pohon ini di tebang jika ia akan menanam pohon lebih banyak lagi, tentu aku akan lebih ikhlas melangkahkan kaki dari sini. Urung dikatakan kalimat ini dari lisannya, tak ingin membuat pemuda tampan di depannya iba. Dia beranjak masuk ke dalam rumah untuk melaksanakan sholat zuhur, inilah saatnya berserah diri. Di gelarnya sarung bersih yang sudah pudar warnanya itu, dia teringat bahwa sarung ini adalah sisa uang hasil kerjanya menjadi tukang cuci piring di sebuah rumah makan siap saji. Buk Tini selalu memberikan sebagian besar gajinya untuk di sumbangkan kepada sekolah-sekolah demi menunjang pendidikan kaum muda. Pendidikan itu penting untuk masa depan paparnya.
            Simpuhan hati seorang wanita senja mampu membuat daun-daun bergoyang turut mengaminkan doanya. Doa tulus untuk cinta massa depan . Bukan cinta yang membawa kesengsaraan dan dosa, lebih-lebih nyawa, tapi cinta yang akan membawanya menjadi orang yang terkasih yang mengabadikan diri di Firdaus-Nya. Perih tersayat, rasa takut hanya bisikan setan yang segera di tepis oleh Buk Tini. Dia yakin kebenaran akan menang bagaimanapun caranya.
                                              *****
Kebakaran-kebakaran!!!
            Puluhan orang-orang berteriak, suasana panik mencekam berbagai bangunan megah di sekeliling gubuk tua. Angkutan umum, mobil-mobil pribadi, dan alat transportasi lainnya semakin menambah kebisingan dengan klakson yang bertubi-tubi tak berhenti. Beberapa orang langsung membantu memadamkan api yang sedang bekobar gagah, kobaran yang semakin mengerikan di akibatkan musim panas dan rambatan api di pohon beringin itu. Terlihat seorang satpam di antara kerumunan orang .                                                                               “Saya ingin menyelamatkan Ibu saya, tolong jangan halangi saya. Tolong!!” Katanya merintih. Beberapa orang menahannya agar tidak menerjang si jago merah yang sedang menunjukkan amarahnya. Ilham terisak yang ada di fikirannya adalah Buk Tini. Apa yang terjadi disini, bagaimana dengan Buk Tini, dimana dia, apakah masih hidup, apakah dia selamat, dimana pemadam kebaran. Berbagai tanya menyelinap di fikirannya yang semakin membuatnya bingung tak tentu arah.
            Dia berlari menerjang kobaran api yang di iringi teriakan warga agar menahanya tapi sia-sia. Disini lah tangan Allah berkehendak. Ilham menemukan sosok wanita senjanya di bawah kasur yang terbakar, sosok itu meringkuk sujud. Dia mengangkat tubuh tua itu , tak peduli apakah masih hidup atau tidak.
            Segera beberapa wanita membantunya, ada guratan sesal di hati mereka karna sempat tidak menghiraukan wanita tua ini. padahal wanita inilah yang sering memberi uang untuk kebutuhan anak-anaknya bersekolah. Diguncang tubuh wanita ini, berharap detak jantunynya berfungsi kembali. Ada tetesan kehawatiran di wajah mereka , sosok itu tetap diam dan tersenyum penuh arti. “Bu, bangunlah bu. Jangan siksa kami dengan rasa bersalah jika kau mati” ibu muda ini mendekap Buk Tini. Air matanya mengucur deras, teringat segala kebaikan dan ketulusannya.
            Ada ujung lirik yang kepuasan dimata lelaki senja berdasi itu. senyum yang membuatnya memikirkan apa yang sangat diinginkannya selama ini akan segera terwujud. Rumah makan yang megah di samping apartementnya akan di perbesar dan akan di buat diskotik. Betapa membahagiakan. Terbayang sudah tumpukkan dolar akan masuk ke dalam kantungnya. Dari kejauhan dia melihat sekumpulan ibu-ibu yang mengerumuni nenek tua yang terlihat di beri minum. Bah kenapa wanita itu masih hidup, sangat lebih baik jika dia itu mati. Tapi biarlah, biar dia merasakan siapa yang sebenarnya berkuasa. Senyumnya semakin melebar seraya beranjak pergi. Dia lalu mendatangi dua orang lelaki yang juga tersenyum puas sambil memberikan amplop ke saku mereka.
                                                            *****
            Ilham memandang wajah pucat yang sedang terbaring di depannya. Rasa sesal masih tampak terlihat diwajahnya dan beberapa wanita disana. Dia tahu siapa dalang di balik ini , tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Berasa tak berarti hidupnya untuk wanita ini. sangat-sangat tak berguna. Kelopak wanita senja itu dengan perlahan terbuka. Dia tersenyum dan di iringi dengan bacaan Hamdalah dari bibir masing-masing manusia yang berdiri disana. Suasana haru terbaca di sana. Sosok itu masih hidup, terima kasih Tuhan.
“Wah, senang sekali anda masih hidup,bu”                                                                            “Apa yang anda lakukan disini, Pak Handoko?!”                                                                           
“Hei ada apa dengan mu Ilham. Aku hanya ingin menjenguk wanita ini apa masalahmu!” balasnya dengan senyum kemenangan. Ilham diam seluruh tubuhnya bergidik panas. Dasar manusia tak berhati.                                                                                                                “Aku ingin bicara dengan Tuan ini empat mata, bolehkah?” kata Buk Tini kepada orang-orang ada disana.                                                                                                                               “Bu, apa yang anda lakukan. Tidak mungkin anda kami tinggalkan dengan manusia serti dia” balas seorang ibu yang tau kejadian yang sebenarnya, tapi sama seperti Ilham dia tidak bisa berbuat apa-apa.                                                                                                                “Yakinlah, tidak akan terjadi apa-apa dengan ku. Bukankah ada Tuhan di sampingku jika dia hendak berbuat macam-macam” Dengan berat hati semua yang ada di ruangan itu keluar. “Hahaha..Bagaimana,bu. Luar biasakan saya. Inilah bukti bahwa uang bisa mengalahkan semuanya”                                                                                                                                      “Anda salah Tuan. Sungguh saya tidak pernah merasa demikian yang saat ini saya rasakan adalah kemenangan yang tulus”                                                                                               “Bicara apa kau nenek tua. Aku haran dengan perbuatanmu, kenapa mempertahankan rumah itu dan pohon berhantu itu, hah!!”                                                                                        “Memang susah bicara dengan orang yang tidak memiliki hati nurani seperti anda, Tuan. Apakah tak fikirkan oleh anda apa dampak yang anda timbulkan setelah pohon itu di tebang. Dan anda membangun tempat maksiat yang menghancurkan moral bangsa dan apakah tidak pernah terfikir olek kepala anda tentang nikmat udara bersih yangn sekarang sudah semakin sedikit di kota ini akibat orang-orang macam anda yang hanya memikirkan uang!!” “Hahah..Tahu apa kau nenek tua tentang moral bangsa dan kesehatan. Uang bisa membeli semuanya, camkan itu!!”                                                                                                      “Sungguh saya begitu sedih melihat orang macam anda yang telah di perbudak oleh uang. Sebanyak apapun uang yang anda dapatkan itu tak akan memberikan kesejahteraan buat anda!!”                                                                                                                                                       “ Terserah apa katamu tua bangka. Aku akan tetap membangun diskotik diatas puing-puing rumahmu yang tinggal arang dan akan ku buat bangunan itu yang kayu nya berasal dari pohon mu, haha” Senyum amis itu semakin melebar, mengeluarkan ulat-ulat dari mulutnya yang bau. “Sungguh aku tak akan pernah ihklas tak akan pernah, Tuan. Sampai jasadku kau potong-potong menjadi lima bagian aku tak akan pernah membuat mu merealisasikan mimpi bodohmu!”                                                                                                                               “Apa yang kau bisa lakukan saat ini wanita tua. Kau tidak seperti dulu yang bisa menahan kontraktorku, yang bisa mengajak warga untuk demo dikantorku agar aku tidak membabat habis pohon yang ada di sebrang jalan rumahmu.Tapi aku tetap bisa, bukan. Kau sebentar lagi akan mati nenek tua. Akan mati!!!”                                                                          “uhuk..uhuk...Demi Allah yang nyawaku ada pada genggamnya, aku tak akan pernah ikhlas. Akan Allah tunjukkan..uhuk..uhuk..bala tentaranya padamu. Tunggulah mereka datang padamu dan mencabik-cabik tubuh mu!”                                                                                Tanpa di sadari Malaikat maut sedang menarik tubuhnya secara perlahan dan membimbingnya untuk membaca syahadat yang akan membawanya pada kenikmatan yanng abadi. Surga abadi sedanng menantimu Bidadari. Bersama Malaikat roh itu terbang menuju gerbang kenikmatan.
                                                                   ****
“Abi, kenapa banyak orang yang berada di bawah pohon itu?”
“Coba Dimas, kira-kira kenapa mereka banyak beradadi bawah pohon itu?”
“Karna disana segar dan banyak udaranya ya ,bi”
“Iya sayang di sana segar dan banyak udaranya, beberapa orang melakukan terapi kesehatan karena disana udara yang di hasilkan murni dari tumbuhan dan pepohonan ”
“Lalu, tulisan itu bacanya apan Bi?”
“TAMAN KARTINI, untuk mengenang seorang wanita yang memperjuangkan tanah miliknya demi kehidupan kita saat ini.” balas Ilham mengenang.
           






Karya: Rini a.rahman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar