Selamat datang di dunia Fisika^_^

mempelajari Fisika sulit-sulit asyikk

Kamis, 12 Januari 2012

Mudahnya Jadi Guru Kreatif



Mudahnya Jadi Guru Kreatif
Ada sebagian guru percaya bahwa menjadi sosok yang kreatif itu sulit. Apalagi kalau ditambahi alasan gaji pas-pasan, mengajar di daerah pelosok, media pembelajaran sangat terbatas, maka semakin yakinlah bahwa kreativitas itu memang sulit dilakukan. Mungkin, hanya guru-guru istimewa saja yang bisa kreatif. Lantas, apa benar jadi guru kreatif itu sulit?

Sebut saja namanya Siti Waliyati, anak yang terlahir dan mengabdikan dirinya di pelosok desa. Sekarang dia mengajar di SDN 8 Langkahan (Aceh Utara). Saya kaget bukan main, SDN 8 Langkahan terletak jauh sekali dari pusat kota. Perlu waktu sekitar 1,5 – 2 jam dari kota Lhokseumawe agar bisa sampai di SDN 8 Langkahan. Jalannya cukup berliku dan berbatu, berdebu di musim kemarau, dan berlumpur di kala hujan. Mobil tumpangan saya pernah terjebak lumpur, rombongan babi hutan sempat menghadang, bahkan saya hampir nyasar ke hutan karena salah jalan. Namun, bagi Siti, hal semacam ini sudah menjadi bagian dari kesehariannya. 

Gaji Siti sangat kecil kalau tidak mau kita sebut alakadarnya. Dia tak pernah risau dengan statusnya sebagai guru honorer. Dia tak pernah berpikir bisa jadi guru hebat nan kreatif karena segala akses pengembangan diri sungguh sangat terbatas. Keikutsertaan menghadiri training guru bisa dihitung dengan jari, buku referensi hampir jarang ditemukan. Supervisi dari kepala sekolah tidak pernah rutin dijalani. Tapi, di sinilah kehebatan Siti sedang diuji. Mungkinkah dia bisa jadi guru hebat dengan segala keterbatasan yang ada? 

Jawabannya ternyata ditemukan juga. Lomba Inovasi Media Pembelajaran Se-Kecamatan Langkahan menjadi saksi bisu atas perjuangan Siti menjadi guru hebat nan kreatif. Lomba itu memberi tantangan khusus kepada peserta untuk membuat inovasi media pembelajaran yang kreatif, orisinil, dan bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran. 

Ada 17 peserta yang lolos ke babak final. Saya ingat betul, Siti menjadi peserta yang mendapat giliran tampil kedua untuk menyajikan hasil karyanya. Bungkus rokok, potongan kayu-kayu kecil, potongan karet sendal jepit berbentuk lingkaran, sedotan, dan sebuah balon, berhasil disulap menjadi mobil-mobilan. Saya dibuat penasaran jadinya. Apa yang hendak ditunjukkan Siti kepada dewan juri?

Dengan gaya khasnya, dia menjelaskan apa dan mengapa tujuan media itu dibuat. Semua dewan juri menganggukkan kepala tanda memahami apa yang disampaikan Siti. “Dengan alat ini, saya ingin membantu siswa memahami konsep gaya,” urai Siti meyakinkan. Situasi menjadi sedikit tegang ketika Siti harus mendemonstrasikan alat itu. Sesaat Siti menghela nafas, lalu meniup balon dengan sedotan, dan diletakkannya balon itu di bagian rangka mobil, lalu apa yang terjadi? 

Sontak suara tepuk tangan riuh bergema di semua sudut ruangan, mobil itu berhasil meluncur dengan bantuan udara yang keluar dari balon. Fantastis. Beberapa dewan juri sempat pula meminta Siti melakukan hal itu berulang-ulang. Wualah, orang tua aja senang bukan main belajar dengan alat ini, apalagi anak-anak. Pikiran itu terlintas di benak saya.  

Siti benar-benar berhasil menyihir dewan juri dengan kreativitasnya yang tiada tara. Apalagi setelah melihat penampilan peserta lainnya, mereka hampir tidak mampu menunjukkan aspek orisinalitas produk inovasi dan kemudahan bahan yang akan dibuat media pembelajaran tersebut. Yang ada, mereka hanya membawa contoh media pembelajaran yang sudah jadi dan bisa didapatkan di pasaran, seperti  globe, gambar-gambar hewan dan tumbuhan, dan media sejenis lainnya. 

Untuk dua hal ini, orisinalitas gagasan dan kreativitas meracik bahan baku pembuatan media, Siti berhasil mengungguli peserta lainnya yang relatif sudah memiliki pengalaman mengajar lebih lama dari Siti. Belum lagi kalau mau dibandingkan dari aspek besar gaji yang diterima, frekuensi keikutsertaan mengikuti training guru, dan keterasingan dari akses pengembangan diri lainnya, Siti kalah telak dari kontestan lainnya yang sebagian besar sudah menjadi guru PNS. 

Ah, tapi apa hubungannya antara kreativitas dan besarnya gaji? Apa memang betul senioritas dalam hal pengalaman mengajar berbanding lurus dengan kreativitas? Status guru PNS atau honorer, berpengaruhkah pada sikap kreatif seorang guru? Ah, Bu Siti mungkin tahu jawabannya.

“Ini baru awal, saya akan berjuang lebih keras lagi untuk menjadi guru yang baik,” Siti sempat berujar di sela-sela acara pengumuman pemenang lomba. Dan tekad itu dibuktikannya pula. Secara otodidak, Siti terus mempelajari banyak hal untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Sampai akhirnya, dia terpilih mewakili SDN 8 Langkahan untuk menjadi pembicara di Event Hari Guru Nasional 2010 silam di Jakarta. 

Apa yang dia bicarakan tidak jauh-jauh dari apa yang sudah dilakoninya selama ini. PAIKEMI (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan Islami), istilah populer yang kerap masih sulit dilakukan sebagian besar guru yang belum sadar akan manfaat dari strategi mengajar ini. Guru yang usianya terhitung masih sangat muda ini pun sangat konsisten mempraktikkan PAIKEMI di kelasnya. 

Kreatif, semua orang bisa miliki sifat ini. Kreativitas, menuntut proses belajar tiada henti dan tidak pernah merasa berpuas diri dalam hal bekerja dan berkarya. Siti Waliyati, potret menarik perjuangan guru dalam berkreativitas. Tak ada yang sulit jika kita terus mau belajar dan memperbaiki diri. Berangus rasa berpuas diri karena ini ancaman nyata menjadi guru kreatif. 

Gaji yang minim, sulitnya akses pengembangan diri, jarangnya kesempatan mengikuti training guru, statusnya yang masih guru honorer, bukan alasan bagi Siti untuk tidak bisa jadi guru kreatif. Lantas, apa yang bisa membuat Siti melawan segala keterbatasan yang ada?

“Saya akan terus berjuang untuk mendidik anak-anak Langkahan, kasihan kalau mereka tidak ada guru. Mereka tak akan pernah punya masa depan,” Siti menegaskan komitmennya berikhtiar tuk jadi guru yang baik. Ternyata sederhana saja, komitmen diri, itu kunci menjadi guru kreatif. Siti Waliyati, salah satu contoh terbaik sosok guru kreatif. 

Jumat, 30 Desember 2011

Pohon kartini


                          SEPETAK  PERJUANGAN KARTINI
           
Hari ini tubuh tua Buk Tini semakin terlihat, apalagi sinar kerutan peluh tergambar jelas di wajahnya yang bersahaja. Kegiatan apapun akan di lakukan jika itu bisa menghilangkan kebosanan hidup yang dia alami seorang diri. Bukan Buk Tini, jika mau berdiam diri berbaring di panti jompo dan bersenda gurau dengan teman-teman seusianya. Buk Tini adalah sosok wanita yang teguh pendirian jika yang dia pertahankan adalah suatu kebenaran. Tapi hari ini wajahnya begitu berbeda tak seperti biasanya, seolah-olah ada hal yang begitu menyiksa batinnya.
            “ada masalah apa, Bu. Mari ceritakan kepada saya ?” sapa pemuda paruh baya yang ramah itu. dia seorang satpam di apartement sebelah rumah Buk Tini, Ilham namanya. Jika bertemu dengannya tanpa seragam kau akan heran dan tidak menyangka kalau dia adalah seorang satpam. Jenggotnya yang rapi dan wajahnya yang bersih bersinar lebih memantapkan jika dia adalah seorang ustadz muda. Dialah yang sering membantu Buk Tini , bahkan sering memberikan Buk Tini uang upah kerjanya yang sering di tolak Buk Tini dengan ramah karna uang pensiun dari suaminya masih cukup untuk memenuhi kebutuhannya seorang diri.
            “hah, si Pria berkacamata hitam itu kemarin mendatangiku, lagi Am” balasnya lirih menerawang kejadian pagi kemarin. Seorang lelaki senja pemimpin proyek pembangunan gedung pencakar langit yang akhiranya turun tangan untuk membujuk wanita tua yang telah membuatnya pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, tujuh orang pegawainya yang datang ke rumah Buk Tini malah menginginkan agar pembangunan itu di batalkan. Dengan alasan kemanusiaan, bah bakal tidak makan jika kita masih memikirkan kemanusian untuk zaman seperti sekarang fikirnya.
            Percakapan sore itu tidak di lanjutkan karna Ilham di minta kembali ke apartement. Buk Tini duduk di bawah pohon beringin sebelah rumahnya setelah menyelesaikan sholat asar. Banyak hal yang dia sering lakukan di sana. Kadang dia mengajak anak-anak yang baru pulang dari les untuk duduk disana bercerita, menggambar, bahkan bermain petak umpet. Kegiatan yang sangat dia gemari karna bisa berkumpul dengan anak-anak dan berbagi cerita, sesuatu yang bisa mengobati kerinduannya kepada anak dan suaminya yang meninggal akibat kecelakaan dua puluh tahun yang lalu. Kajadian miris yang membuat hatinya kelu.
            Beberapa helai daun turun menemani kesunyiannya. Inilah tempat yang membuatnya nyaman selain di atas hamparan kain sarung yang menjadi tempatnya mengadu kepada Tuhan Sang Maha Tahu. Dia menutup matanya, lelehan kulit kelopak matanya yang membuat wajah tua itu kelihatan sangat senja. Fikirannya menembus lorong waktu dan sejenak bermain di sana, sudah hampir terasa hambar wajah anak dan suaminya yang sekarang sudah tenang di alam baka. Apakah kalian sudah siap untuk menyambutku disana, aku merasakan usia ini semakin enggan berlama-lama tinggal dibumi.bisik hatinya.
                                                         ****
             Pagi ini seperti biasa beberapa orang berteduh di bawah rindangnya pohon beringin milik Buk Tini yang sebagian dahannya menjulur ke luar pagar. Perkarangan rumahnya yang tidak terlalu luas membuat siapapun yang melihat tidak menyadari ada gubuk tua yang berlindung di bawahnya. Sangat asri dan menyejukkan bagi setiap yang memandang, suasana yang sangat sulit di dapatkan di kota besar saat ini. dan pemandangan yang sangat kontras dengan lingkungan sekitar yang setba metropollitan.
“Sudahlah Bu, ini demi kabaikan kita bersama” kata lelaki itu geram.                                                             “kebaikan apa yang Tuan maksudkan?” balas Buk Tini tegar, sapu lidi yang di pegangnya sudah tak sabar untuk berlari menusuk wajah Lelaki berkacamata hitam itu.                                   “Bu, sudah habis kesabaran saya menanggapi orang tua macam anda, saya tahu anda sendiri di sini jadi mudah saja untuk saya berbuat sesuatu yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya!!”.                                                                                                                          “Jadi ini sosok asli manusia berdasi saat ini, sungguh memang saya tidak pernah membayangkan ,Tuan”.                                                                                                              “Siapa anda wanita tua berani berbicara seperti itu kepada saya. Oke Bu, saya sudah menawarkan harga yang lebih dari cukup untuk anda dan ini balasan yang saya terima”.              “Saya tidak pernah meminta apapun dari anda Tuan dan itu juga bukan hal yang penting karna pohon dan rumah ini lebih berharga dari uang yang anda miliki”                                                             “Oh, wanita tua. Anda sudah benar-benar saya geram dan jangan salah kan saya dengan sesuatu yang terjadi pada anda!”. Sentaknya seraya pergi.
                                                          ****
            “Apa tidak sebaiknya jika ibu mengihklaskan rumah dan pohon ini, Bu. Insyallah setelahnya Ibu akan lebih tenang bisa tinggal di rumah yang lebih layak dan Ibu tak perlu bersusah payah untuk menyapu daun gugur sebanyak ini lagi” Tuturnya perhatian.               Buk Tini hanya memandangnya sekilas dan memejamkan matanya. Dia tak mengira perkataan itu keluar dari mulut Ilham, pemuda yang sudah di anggapnya anak. Apakah ia tidak meraskan bahwa yang di inginkannya ini adalah sebuah semangat untuk mempertahankan yang seharusnya di pertahankan. Semakin berat saja rasanya semua ini karena dirinya yang sendiri.
            “Maaf sekali Bu, jika menyinggung perasaannya Ibu. Sungguh saya tak bermaksud , saya hanya tak ingin terjadi apa-apa dengan Ibu jika Pak Handoko berbuat macam-macam” Katanya tertunduk. Sungguh dia sangat menyayangi sosok di hadapannya ini sesosok wanita senja yanng telah diangapnya ibunya sendiri. Dan dia tahu hanya dialah yang terlihat peduli, karna setelah kedatangan Pak Handoko kemari, isu mulai merebak bahwa Buk Tini gila dan memiliki hubungan dengan “Penjaga pohon” sehingga banyak orang-orang yang enggan menegur apalagi menitipkan anaknya kapada Buk Tini . Dan dia tahu itu adalah akal-akalan bosnya saja untuk menyusahkan wanita sebatang kara ini.
            Buk Tini tersenyum. Aku hanya bisa mempertahankan ini di usia senjaku nak, tak apa jika yang ingin di bangun “orang kaya itu” adalah rumah ibadah atau tempat sosial dan tak apa pohon ini di tebang jika ia akan menanam pohon lebih banyak lagi, tentu aku akan lebih ikhlas melangkahkan kaki dari sini. Urung dikatakan kalimat ini dari lisannya, tak ingin membuat pemuda tampan di depannya iba. Dia beranjak masuk ke dalam rumah untuk melaksanakan sholat zuhur, inilah saatnya berserah diri. Di gelarnya sarung bersih yang sudah pudar warnanya itu, dia teringat bahwa sarung ini adalah sisa uang hasil kerjanya menjadi tukang cuci piring di sebuah rumah makan siap saji. Buk Tini selalu memberikan sebagian besar gajinya untuk di sumbangkan kepada sekolah-sekolah demi menunjang pendidikan kaum muda. Pendidikan itu penting untuk masa depan paparnya.
            Simpuhan hati seorang wanita senja mampu membuat daun-daun bergoyang turut mengaminkan doanya. Doa tulus untuk cinta massa depan . Bukan cinta yang membawa kesengsaraan dan dosa, lebih-lebih nyawa, tapi cinta yang akan membawanya menjadi orang yang terkasih yang mengabadikan diri di Firdaus-Nya. Perih tersayat, rasa takut hanya bisikan setan yang segera di tepis oleh Buk Tini. Dia yakin kebenaran akan menang bagaimanapun caranya.
                                              *****
Kebakaran-kebakaran!!!
            Puluhan orang-orang berteriak, suasana panik mencekam berbagai bangunan megah di sekeliling gubuk tua. Angkutan umum, mobil-mobil pribadi, dan alat transportasi lainnya semakin menambah kebisingan dengan klakson yang bertubi-tubi tak berhenti. Beberapa orang langsung membantu memadamkan api yang sedang bekobar gagah, kobaran yang semakin mengerikan di akibatkan musim panas dan rambatan api di pohon beringin itu. Terlihat seorang satpam di antara kerumunan orang .                                                                               “Saya ingin menyelamatkan Ibu saya, tolong jangan halangi saya. Tolong!!” Katanya merintih. Beberapa orang menahannya agar tidak menerjang si jago merah yang sedang menunjukkan amarahnya. Ilham terisak yang ada di fikirannya adalah Buk Tini. Apa yang terjadi disini, bagaimana dengan Buk Tini, dimana dia, apakah masih hidup, apakah dia selamat, dimana pemadam kebaran. Berbagai tanya menyelinap di fikirannya yang semakin membuatnya bingung tak tentu arah.
            Dia berlari menerjang kobaran api yang di iringi teriakan warga agar menahanya tapi sia-sia. Disini lah tangan Allah berkehendak. Ilham menemukan sosok wanita senjanya di bawah kasur yang terbakar, sosok itu meringkuk sujud. Dia mengangkat tubuh tua itu , tak peduli apakah masih hidup atau tidak.
            Segera beberapa wanita membantunya, ada guratan sesal di hati mereka karna sempat tidak menghiraukan wanita tua ini. padahal wanita inilah yang sering memberi uang untuk kebutuhan anak-anaknya bersekolah. Diguncang tubuh wanita ini, berharap detak jantunynya berfungsi kembali. Ada tetesan kehawatiran di wajah mereka , sosok itu tetap diam dan tersenyum penuh arti. “Bu, bangunlah bu. Jangan siksa kami dengan rasa bersalah jika kau mati” ibu muda ini mendekap Buk Tini. Air matanya mengucur deras, teringat segala kebaikan dan ketulusannya.
            Ada ujung lirik yang kepuasan dimata lelaki senja berdasi itu. senyum yang membuatnya memikirkan apa yang sangat diinginkannya selama ini akan segera terwujud. Rumah makan yang megah di samping apartementnya akan di perbesar dan akan di buat diskotik. Betapa membahagiakan. Terbayang sudah tumpukkan dolar akan masuk ke dalam kantungnya. Dari kejauhan dia melihat sekumpulan ibu-ibu yang mengerumuni nenek tua yang terlihat di beri minum. Bah kenapa wanita itu masih hidup, sangat lebih baik jika dia itu mati. Tapi biarlah, biar dia merasakan siapa yang sebenarnya berkuasa. Senyumnya semakin melebar seraya beranjak pergi. Dia lalu mendatangi dua orang lelaki yang juga tersenyum puas sambil memberikan amplop ke saku mereka.
                                                            *****
            Ilham memandang wajah pucat yang sedang terbaring di depannya. Rasa sesal masih tampak terlihat diwajahnya dan beberapa wanita disana. Dia tahu siapa dalang di balik ini , tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Berasa tak berarti hidupnya untuk wanita ini. sangat-sangat tak berguna. Kelopak wanita senja itu dengan perlahan terbuka. Dia tersenyum dan di iringi dengan bacaan Hamdalah dari bibir masing-masing manusia yang berdiri disana. Suasana haru terbaca di sana. Sosok itu masih hidup, terima kasih Tuhan.
“Wah, senang sekali anda masih hidup,bu”                                                                            “Apa yang anda lakukan disini, Pak Handoko?!”                                                                           
“Hei ada apa dengan mu Ilham. Aku hanya ingin menjenguk wanita ini apa masalahmu!” balasnya dengan senyum kemenangan. Ilham diam seluruh tubuhnya bergidik panas. Dasar manusia tak berhati.                                                                                                                “Aku ingin bicara dengan Tuan ini empat mata, bolehkah?” kata Buk Tini kepada orang-orang ada disana.                                                                                                                               “Bu, apa yang anda lakukan. Tidak mungkin anda kami tinggalkan dengan manusia serti dia” balas seorang ibu yang tau kejadian yang sebenarnya, tapi sama seperti Ilham dia tidak bisa berbuat apa-apa.                                                                                                                “Yakinlah, tidak akan terjadi apa-apa dengan ku. Bukankah ada Tuhan di sampingku jika dia hendak berbuat macam-macam” Dengan berat hati semua yang ada di ruangan itu keluar. “Hahaha..Bagaimana,bu. Luar biasakan saya. Inilah bukti bahwa uang bisa mengalahkan semuanya”                                                                                                                                      “Anda salah Tuan. Sungguh saya tidak pernah merasa demikian yang saat ini saya rasakan adalah kemenangan yang tulus”                                                                                               “Bicara apa kau nenek tua. Aku haran dengan perbuatanmu, kenapa mempertahankan rumah itu dan pohon berhantu itu, hah!!”                                                                                        “Memang susah bicara dengan orang yang tidak memiliki hati nurani seperti anda, Tuan. Apakah tak fikirkan oleh anda apa dampak yang anda timbulkan setelah pohon itu di tebang. Dan anda membangun tempat maksiat yang menghancurkan moral bangsa dan apakah tidak pernah terfikir olek kepala anda tentang nikmat udara bersih yangn sekarang sudah semakin sedikit di kota ini akibat orang-orang macam anda yang hanya memikirkan uang!!” “Hahah..Tahu apa kau nenek tua tentang moral bangsa dan kesehatan. Uang bisa membeli semuanya, camkan itu!!”                                                                                                      “Sungguh saya begitu sedih melihat orang macam anda yang telah di perbudak oleh uang. Sebanyak apapun uang yang anda dapatkan itu tak akan memberikan kesejahteraan buat anda!!”                                                                                                                                                       “ Terserah apa katamu tua bangka. Aku akan tetap membangun diskotik diatas puing-puing rumahmu yang tinggal arang dan akan ku buat bangunan itu yang kayu nya berasal dari pohon mu, haha” Senyum amis itu semakin melebar, mengeluarkan ulat-ulat dari mulutnya yang bau. “Sungguh aku tak akan pernah ihklas tak akan pernah, Tuan. Sampai jasadku kau potong-potong menjadi lima bagian aku tak akan pernah membuat mu merealisasikan mimpi bodohmu!”                                                                                                                               “Apa yang kau bisa lakukan saat ini wanita tua. Kau tidak seperti dulu yang bisa menahan kontraktorku, yang bisa mengajak warga untuk demo dikantorku agar aku tidak membabat habis pohon yang ada di sebrang jalan rumahmu.Tapi aku tetap bisa, bukan. Kau sebentar lagi akan mati nenek tua. Akan mati!!!”                                                                          “uhuk..uhuk...Demi Allah yang nyawaku ada pada genggamnya, aku tak akan pernah ikhlas. Akan Allah tunjukkan..uhuk..uhuk..bala tentaranya padamu. Tunggulah mereka datang padamu dan mencabik-cabik tubuh mu!”                                                                                Tanpa di sadari Malaikat maut sedang menarik tubuhnya secara perlahan dan membimbingnya untuk membaca syahadat yang akan membawanya pada kenikmatan yanng abadi. Surga abadi sedanng menantimu Bidadari. Bersama Malaikat roh itu terbang menuju gerbang kenikmatan.
                                                                   ****
“Abi, kenapa banyak orang yang berada di bawah pohon itu?”
“Coba Dimas, kira-kira kenapa mereka banyak beradadi bawah pohon itu?”
“Karna disana segar dan banyak udaranya ya ,bi”
“Iya sayang di sana segar dan banyak udaranya, beberapa orang melakukan terapi kesehatan karena disana udara yang di hasilkan murni dari tumbuhan dan pepohonan ”
“Lalu, tulisan itu bacanya apan Bi?”
“TAMAN KARTINI, untuk mengenang seorang wanita yang memperjuangkan tanah miliknya demi kehidupan kita saat ini.” balas Ilham mengenang.
           






Karya: Rini a.rahman

Selasa, 20 Desember 2011

Debu Bintang


INI ADA BERITA LAMA
 From: rasa-l-admin@lists.VOA.GOV <rasa-l-admin@lists.VOA.GOV
To: Radio Suara Amerika <rasa-l@lists.VOA.GOV
Date: Saturday, November 20, 1999 1:03 PM
Subject: Debu Bintang
 
Debu Bintang
Disiarkan: 19 November, 1999
-----------------------------
Badan antariksa Amerika, NASA, tanggal 7 Februari yang lalu telah
meluncurkan sebuah pesawat antariksa untuk menangkap atau mengumpulkan debu komet dalam tahun 2,004 nanti.
Pesawat antariksa itu diberi nama Stardust, atau debu bintang. Sasarannya adalah sebuah komet yang bernama Wild-Two yang pada waktu itu nanti akan memasuki sistem tata-surya kita.
Komet pada umumnya terdiri es yang bercampur dengan batu-batu karang dan debu kosmik. Komet, atau bintang berekor yang tampak dari bumi biasanya mempunyai kepala yang lebarnya ribuan km dan ekor yang panjangnya jutaan km.
Kata banyak sarjana, komet-komet itu pada umumnya berasal dari zaman
dulu ketika sistem matahari kita baru terbentuk. Tarikan gaya berat
berbagai planet pada akhirnya  akan membawa komet-komet itu ke arah
garis edar sekitar matahari.
Pada waktu komet itu terbang mendekati matahari, manusia di bumi bisa
melihatnya, kadang-kadang dengan mata biasa. Komet yang bernama Wild-Two itu sampai tahun 1974 mempunyai orbit yang jauh dari matahari, sampai pada suatu ketika garis edarnya agak berubah karena ditarik oleh gaya berat planit Jupiter.
Pesawat antariksa Stardust diharapkan akan terbang melewati, atau
mungkin lebih tepat menembus ekor komet itu dalam tahun 2,004. Dalam
jarak 100 km dari inti komet itu sendiri.
Stardust kemudian akan mengumpulkan debu-debu kosmik  yang  berhamburan dari sekitar inti komet yang terbang cepat itu, dan membawanya kembali ke bumi. Sebuah kontainer yang berisi debu komet akan diluncurkan ke bumi dengan parasut atau payung dan akan mendarat di suatu tempat di negara bagian Utah di Amerika, dalam tahun 2,006.
Pesawat antariksa Stardust juga akan mengirim foto-foto komet Wild-Two
ke bumi, sambil menganalisa debu komet itu dengan menggunakan sebuah alat yang disebut mass spectrometer. Foto-foto komet Wild-Two
itu diharapkan akan lebih jelas dari foto-foto komet Halley, yang dibuat
dalam tahun 1986 oleh sebuah pesawat antariksa gabungan milik  Soviet,
Eropa dan Jepang.

Pada waktu itu ditemukan bahwa komet Halley mengandung molekul-molekul organik, yang merupakan bahan-bahan dasar untuk menciptakan kehidupan.
Komet Halley itu pernah terlihat dan dicatat oleh orang-orang Cina pada
tahun 240 sebelum Nabi Isa, dan sebuah lukisan kuno dari tahun 1,066
menunjukkan gambar komet Halley ketika bangsa Normandia menaklukkan Inggris.

Sampai tahun 1995, para sarjana menemukan lebih dari 870 komet di ruang angkasa, dan mencatat garis edar mereka masing-masing.
Dari jumlah itu, 184 buah diketahui mempunyai orbit atau garis edar yang
bisa dilihat dari bumi tiap 200 tahun sekali atau kurang. Sampai saat
ini, para sarjana masih belum berhasil memeriksa debu komet secara
langsung dalam laboratorium; dan sebab itulah mereka sangat berharap
bisa melakukannya dalam tahun 2,006 nanti.

Para sarjana itu akan mencari atom-atom dan molekul yang terbentuk 
atau telah ada sejak terciptanya sistem tatasurya kita; dan mungkin 
nantinya akan bisa menjelaskan bagaimana kehidupan di bumi ini mulai.

Komet yang garis edarnya berulang kali melewati matahari pada akhirnya
akan kehilangan muatan es dan gas yang dimilikinya dan akan tampak
seperti batu karang besar yang melayang di antariksa.

Kalau garis edar bumi kebetulan melewati garis lintasan komet, maka
orang di bumi akan melihat  apa yang sering disebut sebagai bintang
jatuh.  Misalnya tiap tahun, antara tanggal 9 sampai 13 Agustus, kita
akan bisa melihat fenomena itu ketika bumi melewati garis edar komet
yang bernama Swift-Tuttle; dan dalam bulan Oktober kita juga bisa
melihat banyak bintang jatuh, ketika bumi melewati garis edar komet
Halley.