SEPETAK PERJUANGAN KARTINI
Hari ini tubuh
tua Buk Tini semakin terlihat, apalagi sinar kerutan peluh tergambar jelas di
wajahnya yang bersahaja. Kegiatan apapun akan di lakukan jika itu bisa
menghilangkan kebosanan hidup yang dia alami seorang diri. Bukan Buk Tini, jika
mau berdiam diri berbaring di panti jompo dan bersenda gurau dengan teman-teman
seusianya. Buk Tini adalah sosok wanita yang teguh pendirian jika yang dia pertahankan
adalah suatu kebenaran. Tapi hari ini wajahnya begitu berbeda tak seperti
biasanya, seolah-olah ada hal yang begitu menyiksa batinnya.
“ada
masalah apa, Bu. Mari ceritakan kepada saya ?” sapa pemuda paruh baya yang
ramah itu. dia seorang satpam di apartement sebelah rumah Buk Tini, Ilham
namanya. Jika bertemu dengannya tanpa seragam kau akan heran dan tidak
menyangka kalau dia adalah seorang satpam. Jenggotnya yang rapi dan wajahnya
yang bersih bersinar lebih memantapkan jika dia adalah seorang ustadz muda.
Dialah yang sering membantu Buk Tini , bahkan sering memberikan Buk Tini uang
upah kerjanya yang sering di tolak Buk Tini dengan ramah karna uang pensiun
dari suaminya masih cukup untuk memenuhi kebutuhannya seorang diri.
“hah,
si Pria berkacamata hitam itu kemarin mendatangiku, lagi Am” balasnya lirih
menerawang kejadian pagi kemarin. Seorang lelaki senja pemimpin proyek
pembangunan gedung pencakar langit yang akhiranya turun tangan untuk membujuk
wanita tua yang telah membuatnya pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, tujuh
orang pegawainya yang datang ke rumah Buk Tini malah menginginkan agar
pembangunan itu di batalkan. Dengan alasan kemanusiaan, bah bakal tidak makan
jika kita masih memikirkan kemanusian untuk zaman seperti sekarang fikirnya.
Percakapan
sore itu tidak di lanjutkan karna Ilham di minta kembali ke apartement. Buk Tini
duduk di bawah pohon beringin sebelah rumahnya setelah menyelesaikan sholat
asar. Banyak hal yang dia sering lakukan di sana. Kadang dia mengajak anak-anak
yang baru pulang dari les untuk duduk disana bercerita, menggambar, bahkan
bermain petak umpet. Kegiatan yang sangat dia gemari karna bisa berkumpul
dengan anak-anak dan berbagi cerita, sesuatu yang bisa mengobati kerinduannya
kepada anak dan suaminya yang meninggal akibat kecelakaan dua puluh tahun yang
lalu. Kajadian miris yang membuat hatinya kelu.
Beberapa
helai daun turun menemani kesunyiannya. Inilah tempat yang membuatnya nyaman
selain di atas hamparan kain sarung yang menjadi tempatnya mengadu kepada Tuhan
Sang Maha Tahu. Dia menutup matanya, lelehan kulit kelopak matanya yang membuat
wajah tua itu kelihatan sangat senja. Fikirannya menembus lorong waktu dan
sejenak bermain di sana, sudah hampir terasa hambar wajah anak dan suaminya
yang sekarang sudah tenang di alam baka. Apakah kalian sudah siap untuk
menyambutku disana, aku merasakan usia ini semakin enggan berlama-lama tinggal
dibumi.bisik hatinya.
****
Pagi ini seperti biasa beberapa orang berteduh
di bawah rindangnya pohon beringin milik Buk Tini yang sebagian dahannya
menjulur ke luar pagar. Perkarangan rumahnya yang tidak terlalu luas membuat
siapapun yang melihat tidak menyadari ada gubuk tua yang berlindung di
bawahnya. Sangat asri dan menyejukkan bagi setiap yang memandang, suasana yang
sangat sulit di dapatkan di kota besar saat ini. dan pemandangan yang sangat
kontras dengan lingkungan sekitar yang setba metropollitan.
“Sudahlah Bu, ini demi kabaikan
kita bersama” kata lelaki itu geram. “kebaikan
apa yang Tuan maksudkan?” balas Buk Tini tegar, sapu lidi yang di pegangnya
sudah tak sabar untuk berlari menusuk wajah Lelaki berkacamata hitam itu. “Bu, sudah
habis kesabaran saya menanggapi orang tua macam anda, saya tahu anda sendiri di
sini jadi mudah saja untuk saya berbuat sesuatu yang tidak pernah anda
bayangkan sebelumnya!!”.
“Jadi
ini sosok asli manusia berdasi saat ini, sungguh memang saya tidak pernah
membayangkan ,Tuan”.
“Siapa anda wanita tua berani berbicara
seperti itu kepada saya. Oke Bu, saya sudah menawarkan harga yang lebih dari
cukup untuk anda dan ini balasan yang saya terima”. “Saya tidak pernah meminta apapun dari anda
Tuan dan itu juga bukan hal yang penting karna pohon dan rumah ini lebih
berharga dari uang yang anda miliki”
“Oh, wanita tua. Anda sudah benar-benar saya geram dan jangan salah kan
saya dengan sesuatu yang terjadi pada anda!”. Sentaknya seraya pergi.
****
“Apa
tidak sebaiknya jika ibu mengihklaskan rumah dan pohon ini, Bu. Insyallah
setelahnya Ibu akan lebih tenang bisa tinggal di rumah yang lebih layak dan Ibu
tak perlu bersusah payah untuk menyapu daun gugur sebanyak ini lagi” Tuturnya
perhatian. Buk Tini hanya
memandangnya sekilas dan memejamkan matanya. Dia tak mengira perkataan itu
keluar dari mulut Ilham, pemuda yang sudah di anggapnya anak. Apakah ia tidak
meraskan bahwa yang di inginkannya ini adalah sebuah semangat untuk
mempertahankan yang seharusnya di pertahankan. Semakin berat saja rasanya semua
ini karena dirinya yang sendiri.
“Maaf
sekali Bu, jika menyinggung perasaannya Ibu. Sungguh saya tak bermaksud , saya
hanya tak ingin terjadi apa-apa dengan Ibu jika Pak Handoko berbuat
macam-macam” Katanya tertunduk. Sungguh dia sangat menyayangi sosok di
hadapannya ini sesosok wanita senja yanng telah diangapnya ibunya sendiri. Dan
dia tahu hanya dialah yang terlihat peduli, karna setelah kedatangan Pak
Handoko kemari, isu mulai merebak bahwa Buk Tini gila dan memiliki hubungan
dengan “Penjaga pohon” sehingga banyak orang-orang yang enggan menegur apalagi
menitipkan anaknya kapada Buk Tini . Dan dia tahu itu adalah akal-akalan bosnya
saja untuk menyusahkan wanita sebatang kara ini.
Buk
Tini tersenyum. Aku hanya bisa mempertahankan ini di usia senjaku nak, tak apa
jika yang ingin di bangun “orang kaya itu” adalah rumah ibadah atau tempat
sosial dan tak apa pohon ini di tebang jika ia akan menanam pohon lebih banyak
lagi, tentu aku akan lebih ikhlas melangkahkan kaki dari sini. Urung dikatakan
kalimat ini dari lisannya, tak ingin membuat pemuda tampan di depannya iba. Dia
beranjak masuk ke dalam rumah untuk melaksanakan sholat zuhur, inilah saatnya
berserah diri. Di gelarnya sarung bersih yang sudah pudar warnanya itu, dia
teringat bahwa sarung ini adalah sisa uang hasil kerjanya menjadi tukang cuci
piring di sebuah rumah makan siap saji. Buk Tini selalu memberikan sebagian
besar gajinya untuk di sumbangkan kepada sekolah-sekolah demi menunjang
pendidikan kaum muda. Pendidikan itu penting untuk masa depan paparnya.
Simpuhan
hati seorang wanita senja mampu membuat daun-daun bergoyang turut mengaminkan
doanya. Doa tulus untuk cinta massa depan . Bukan cinta yang membawa
kesengsaraan dan dosa, lebih-lebih nyawa, tapi cinta yang akan membawanya
menjadi orang yang terkasih yang mengabadikan diri di Firdaus-Nya. Perih
tersayat, rasa takut hanya bisikan setan yang segera di tepis oleh Buk Tini.
Dia yakin kebenaran akan menang bagaimanapun caranya.
*****
Kebakaran-kebakaran!!!
Puluhan
orang-orang berteriak, suasana panik mencekam berbagai bangunan megah di
sekeliling gubuk tua. Angkutan umum, mobil-mobil pribadi, dan alat transportasi
lainnya semakin menambah kebisingan dengan klakson yang bertubi-tubi tak
berhenti. Beberapa orang langsung membantu memadamkan api yang sedang bekobar
gagah, kobaran yang semakin mengerikan di akibatkan musim panas dan rambatan
api di pohon beringin itu. Terlihat seorang satpam di antara kerumunan orang .
“Saya ingin menyelamatkan Ibu saya, tolong
jangan halangi saya. Tolong!!” Katanya merintih. Beberapa orang menahannya agar
tidak menerjang si jago merah yang
sedang menunjukkan amarahnya. Ilham terisak yang ada di fikirannya adalah Buk
Tini. Apa yang terjadi disini, bagaimana dengan Buk Tini, dimana dia, apakah
masih hidup, apakah dia selamat, dimana pemadam kebaran. Berbagai tanya
menyelinap di fikirannya yang semakin membuatnya bingung tak tentu arah.
Dia
berlari menerjang kobaran api yang di iringi teriakan warga agar menahanya tapi
sia-sia. Disini lah tangan Allah berkehendak. Ilham menemukan sosok wanita
senjanya di bawah kasur yang terbakar, sosok itu meringkuk sujud. Dia
mengangkat tubuh tua itu , tak peduli apakah masih hidup atau tidak.
Segera
beberapa wanita membantunya, ada guratan sesal di hati mereka karna sempat
tidak menghiraukan wanita tua ini. padahal wanita inilah yang sering memberi
uang untuk kebutuhan anak-anaknya bersekolah. Diguncang tubuh wanita ini,
berharap detak jantunynya berfungsi kembali. Ada tetesan kehawatiran di wajah
mereka , sosok itu tetap diam dan tersenyum penuh arti. “Bu, bangunlah bu.
Jangan siksa kami dengan rasa bersalah jika kau mati” ibu muda ini mendekap Buk
Tini. Air matanya mengucur deras, teringat segala kebaikan dan ketulusannya.
Ada
ujung lirik yang kepuasan dimata lelaki senja berdasi itu. senyum yang
membuatnya memikirkan apa yang sangat diinginkannya selama ini akan segera
terwujud. Rumah makan yang megah di samping apartementnya akan di perbesar dan
akan di buat diskotik. Betapa membahagiakan. Terbayang sudah tumpukkan dolar
akan masuk ke dalam kantungnya. Dari kejauhan dia melihat sekumpulan ibu-ibu
yang mengerumuni nenek tua yang terlihat di beri minum. Bah kenapa wanita itu
masih hidup, sangat lebih baik jika dia itu mati. Tapi biarlah, biar dia
merasakan siapa yang sebenarnya berkuasa. Senyumnya semakin melebar seraya
beranjak pergi. Dia lalu mendatangi dua orang lelaki yang juga tersenyum puas
sambil memberikan amplop ke saku mereka.
*****
Ilham
memandang wajah pucat yang sedang terbaring di depannya. Rasa sesal masih
tampak terlihat diwajahnya dan beberapa wanita disana. Dia tahu siapa dalang di
balik ini , tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Berasa tak berarti hidupnya
untuk wanita ini. sangat-sangat tak berguna. Kelopak wanita senja itu dengan
perlahan terbuka. Dia tersenyum dan di iringi dengan bacaan Hamdalah dari bibir
masing-masing manusia yang berdiri disana. Suasana haru terbaca di sana. Sosok
itu masih hidup, terima kasih Tuhan.
“Wah, senang sekali anda masih
hidup,bu”
“Apa yang anda lakukan disini, Pak Handoko?!”
“Hei ada apa dengan mu Ilham. Aku
hanya ingin menjenguk wanita ini apa masalahmu!” balasnya dengan senyum
kemenangan. Ilham diam seluruh tubuhnya bergidik panas. Dasar manusia tak
berhati. “Aku
ingin bicara dengan Tuan ini empat mata, bolehkah?” kata Buk Tini kepada
orang-orang ada disana. “Bu,
apa yang anda lakukan. Tidak mungkin anda kami tinggalkan dengan manusia serti
dia” balas seorang ibu yang tau kejadian yang sebenarnya, tapi sama seperti
Ilham dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Yakinlah, tidak akan terjadi apa-apa dengan ku. Bukankah ada Tuhan di
sampingku jika dia hendak berbuat macam-macam” Dengan berat hati semua yang ada
di ruangan itu keluar. “Hahaha..Bagaimana,bu. Luar biasakan saya. Inilah bukti
bahwa uang bisa mengalahkan semuanya”
“Anda
salah Tuan. Sungguh saya tidak pernah merasa demikian yang saat ini saya
rasakan adalah kemenangan yang tulus”
“Bicara apa
kau nenek tua. Aku haran dengan perbuatanmu, kenapa mempertahankan rumah itu
dan pohon berhantu itu, hah!!”
“Memang susah bicara dengan orang yang tidak memiliki hati nurani
seperti anda, Tuan. Apakah tak fikirkan oleh anda apa dampak yang anda
timbulkan setelah pohon itu di tebang. Dan anda membangun tempat maksiat yang
menghancurkan moral bangsa dan apakah tidak pernah terfikir olek kepala anda
tentang nikmat udara bersih yangn sekarang sudah semakin sedikit di kota ini
akibat orang-orang macam anda yang hanya memikirkan uang!!” “Hahah..Tahu apa
kau nenek tua tentang moral bangsa dan kesehatan. Uang bisa membeli semuanya,
camkan itu!!” “Sungguh
saya begitu sedih melihat orang macam anda yang telah di perbudak oleh uang.
Sebanyak apapun uang yang anda dapatkan itu tak akan memberikan kesejahteraan
buat anda!!”
“ Terserah apa katamu tua bangka. Aku akan tetap membangun diskotik
diatas puing-puing rumahmu yang tinggal arang dan akan ku buat bangunan itu
yang kayu nya berasal dari pohon mu, haha” Senyum amis itu semakin melebar,
mengeluarkan ulat-ulat dari mulutnya yang bau. “Sungguh aku tak akan pernah
ihklas tak akan pernah, Tuan. Sampai jasadku kau potong-potong menjadi lima
bagian aku tak akan pernah membuat mu merealisasikan mimpi bodohmu!”
“Apa yang kau bisa lakukan saat ini wanita tua. Kau tidak seperti dulu
yang bisa menahan kontraktorku, yang bisa mengajak warga untuk demo dikantorku
agar aku tidak membabat habis pohon yang ada di sebrang jalan rumahmu.Tapi aku
tetap bisa, bukan. Kau sebentar lagi akan mati nenek tua. Akan mati!!!”
“uhuk..uhuk...Demi Allah yang nyawaku ada pada genggamnya, aku tak akan
pernah ikhlas. Akan Allah tunjukkan..uhuk..uhuk..bala tentaranya padamu.
Tunggulah mereka datang padamu dan mencabik-cabik tubuh mu!”
Tanpa di sadari Malaikat maut
sedang menarik tubuhnya secara perlahan dan membimbingnya untuk membaca
syahadat yang akan membawanya pada kenikmatan yanng abadi. Surga abadi sedanng
menantimu Bidadari. Bersama Malaikat roh itu terbang menuju gerbang kenikmatan.
****
“Abi, kenapa banyak orang yang
berada di bawah pohon itu?”
“Coba Dimas, kira-kira kenapa
mereka banyak beradadi bawah pohon itu?”
“Karna disana segar dan banyak
udaranya ya ,bi”
“Iya sayang di sana segar dan
banyak udaranya, beberapa orang melakukan terapi kesehatan karena disana udara
yang di hasilkan murni dari tumbuhan dan pepohonan ”
“Lalu, tulisan itu bacanya apan
Bi?”
“TAMAN KARTINI, untuk mengenang
seorang wanita yang memperjuangkan tanah miliknya demi kehidupan kita saat
ini.” balas Ilham mengenang.
Karya: Rini a.rahman
